BerandaBerita UtamaBahaya Media Sosial Bagi Kesehatan Mental, Berhenti Bandingkan Diri

Bahaya Media Sosial Bagi Kesehatan Mental, Berhenti Bandingkan Diri

- Advertisement -

SURABAYA, Media sosial saat ini tak jarang menjelma menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi menjadi sarana hiburan, namun di sisi lain sering menjadi tempat bagi seseorang untuk terus mencari validasi atas jati dirinya.

Keinginan untuk selalu tampil sempurna di dunia maya ini pada akhirnya justru dapat memicu tekanan batin yang mendalam.

Kenyataannya, konten yang diunggah ke berbagai platform media sosial umumnya sudah dikurasi dan diatur sedemikian rupa agar terlihat menarik.

Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dan memahami bahwa apa yang tersaji di layar ponsel bukanlah gambaran utuh dari kenyataan hidup seseorang.

Psikolog dari Universitas Hang Tuah Surabaya, Desi Nur Utami, secara khusus menyoroti tantangan kesehatan mental di era digital ini.

Menurutnya, fenomena tersebut sangat rentan dan sering kali berdampak besar bagi kesehatan psikologis masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.

Berhenti Membandingkan Diri

Desi memaparkan bahwa kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan kehidupan mewah figur publik atau influencer di media sosial dapat menjadi pemicu utama datangnya perasaan depresi.

- Advertisement -

Ia menekankan betapa pentingnya bagi para pengguna untuk tidak terpaku pada standar kebahagiaan orang lain.

“Jadi tidak perlu kita membandingkan diri dengan orang lain, karena saya yakin, setiap orang itu pasti punya suka-dukanya.

Kebetulan saja yang kita lihat di postingan media sosial itu adalah yang baik-baiknya,” tegas Desi dalam perbincangannya bersama PRO 3 RRI, Kamis (30/4/2026).

Arus informasi yang terlalu deras di media sosial juga sering kali membuat pikiran menjadi lelah dan pusing.

Untuk menyiasatinya, Desi mengimbau masyarakat agar mulai menyaring informasi dan tontonan yang masuk demi menjaga kewarasan mental.

Pentingnya Rehat dan Bantuan Profesional

Langkah krusial lainnya adalah mengenali gejala awal dari kelelahan emosional sebelum berkembang menjadi masalah psikologis yang lebih berat.

“Izinkan diri untuk rehat sejenak jika merasa lelah secara fisik maupun mental,” sarannya.

Sebagai penawar rasa lelah, Desi menganjurkan praktik refleksi diri dan afirmasi positif sebelum beristirahat agar pikiran tetap tenang.

“Coba ingat hal-hal baik apa yang ada, rezeki-rezeki apa yang diberikan sepanjang hari ini, sehingga, kita akan bisa lebih memaknai setiap hari dengan lebih positif,” ucapnya.

Namun, jika tekanan dirasa sudah tak tertahankan, masyarakat diimbau untuk tidak menyepelekan kondisi tersebut.

- Advertisement -

Saat ini, layanan konseling online juga sudah banyak tersedia sebagai solusi praktis bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu.

“Carilah bantuan pada yang profesional agar ditangani dan teratasi lebih cepat, serta tidak terjadi kesalahan dalam penanganan,” pungkas Desi mengingatkan.

- Advertisement -

Artikel Terkait :

Artikel Terkait :

Trending

#Taggar Trending