Pemerintah melalui Kementerian Transmigrasi (Kementrans) resmi membuka pendaftaran untuk 1.400 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Program yang akan disebar ke 52 kawasan transmigrasi ini merupakan kelanjutan strategis dari TEP 2025 guna mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) nasional yang unggul.
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menegaskan bahwa TEP 2026 membawa pendekatan yang berbeda. Jika sebelumnya program ini lebih berat pada riset dan pemetaan potensi ekonomi, kini fokus utamanya dialihkan pada aksi nyata di lapangan yang mencakup pendampingan dan pembinaan masyarakat secara langsung.
“Saya bersyukur kehadiran Tim Ekspedisi Patriot mengobati kerinduan masyarakat akan hadirnya negara dan pemerintah. Semoga ini berjalan lancar,” ungkap Iftitah dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
Aksi Nyata dan Syarat Pendaftaran
Bagi masyarakat yang tertarik untuk berkontribusi, pendaftaran peserta telah dibuka mulai 1 Mei 2026 melalui laman resmi Kementerian Transmigrasi. Persyaratan minimum bagi calon peserta adalah lulusan sarjana (S1) yang terbuka bagi berbagai kalangan masyarakat maupun perguruan tinggi.
“Kalau sebelumnya fokus riset dan pemetaan ekonomi, sekarang lebih banyak aksi nyata lapangan. Jadi memang akan semakin melihat kondisi di lapangannya seperti apa,” urai Menteri Iftitah menjelaskan transisi fokus program tersebut.
Sejalan dengan program pemberdayaan ini, Iftitah juga menekankan komitmen pemerintah untuk menghadirkan pembangunan infrastruktur dasar yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di kawasan transmigrasi, mulai dari akses jalan hingga penyediaan sarana air bersih.
Nantinya, 1.400 peserta TEP 2026 ini akan ditempatkan di berbagai kawasan transmigrasi prioritas nasional yang membentang dari Aceh, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku Utara, hingga Papua.
Dukungan Penuh untuk Kawasan Timur
Langkah Kementrans ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Vernando Wanggai. Ia menilai kehadiran kembali TEP di tahun 2026 menjadi harapan baru untuk mengakselerasi pembangunan daerah.
“Kementerian Transmigrasi melakukan pendekatan baru di dalam transmigrasi di Papua. Pendekatan kolaborasi dengan perguruan tinggi, sehingga dapat memetakan potensi ekonomi wilayah, memetakan kelembagaan ekonomi yang kontekstual dengan Papua,” pungkas Velix menyambut positif program tersebut.
