Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas tidak menyurutkan komitmen Pemerintah Indonesia untuk melindungi daya beli masyarakat.
Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, mengungkapkan langkah strategis Presiden Prabowo Subianto dalam mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi agar tetap stabil di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia.
Situasi global saat ini memang sedang tidak menentu menyusul gagalnya perundingan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang menyebabkan harga acuan minyak mentah jenis Brent sempat melonjak hingga mencapai 119 dolar AS atau sekitar Rp2 juta per barel pada akhir April lalu.
Diplomasi Energi ke Negara Produsen
Guna mengantisipasi dampak buruk dari gejolak pasar energi global, Presiden Prabowo bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dilaporkan aktif melakukan kunjungan ke berbagai negara produsen minyak utama. Langkah jemput bola ini dilakukan untuk memastikan pasokan minyak ke Indonesia tetap aman dalam jumlah besar.
“Presiden dan Pak Bahlil pergi ke negara-negara produsen minyak agar suplainya masuk ke Indonesia dalam jumlah besar sehingga harga BBM bersubsidi bisa dipertahankan,” ujar Misbakhun dalam keterangannya di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Ia menegaskan bahwa komitmen ini merupakan bentuk perlindungan nyata bagi masyarakat.
Di saat banyak negara di dunia mulai menaikkan harga energi mereka, Indonesia berupaya keras untuk tetap menahan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun ini, sekalipun harga minyak dunia nantinya melampaui angka USD 100 per barel.
Bukan Hanya BBM: Subsidi Listrik hingga Gas Melon
Selain sektor BBM, pemerintah juga masih konsisten mempertahankan subsidi untuk berbagai kebutuhan pokok lainnya. Misbakhun mencontohkan harga elpiji kemasan 3 kilogram atau “gas melon” yang hingga kini masih bisa dinikmati konsumen di kisaran harga Rp22 ribu. Padahal, elpiji nonsubsidi kemasan 5,5 kg dan 12 kg harganya sudah mencapai ratusan ribu rupiah.
Negara tidak hanya menggelontorkan dana untuk energi, tetapi juga mencakup berbagai sektor fundamental lainnya demi menjaga stabilitas ekonomi rakyat, di antaranya:
- Subsidi Listrik: Menjaga tarif listrik agar tetap terjangkau bagi rumah tangga.
- Subsidi Bunga KUR: Membantu para pelaku usaha mikro dan kecil dalam mendapatkan akses modal yang murah.
- Iuran BPJS Kesehatan: Pemerintah terus menanggung iuran kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan.
- Bantuan Langsung Tunai (BLT): Penyaluran bantuan dana tunai untuk menjaga daya beli kelompok rentan.
“Jumlah yang digelontorkan bukan ratusan juta atau ratusan miliar, melainkan ratusan triliun rupiah,” imbuh Misbakhun, menekankan betapa besarnya intervensi APBN untuk melindungi rakyat dari tekanan harga global.
Tantangan Pasar Energi Global
Kenaikan harga energi dunia saat ini memang sulit dihindari akibat berbagai faktor eksternal yang kompleks.
Selain blokade AS terhadap Iran, pasar energi juga dibayangi oleh ketidakpastian jalur pelayaran di Selat Hormuz serta keputusan mengejutkan dari Uni Emirat Arab yang memilih keluar dari organisasi OPEC.
Meskipun ancaman blokade lanjutan dari Presiden AS Donald Trump terhadap Iran berpotensi memicu eskalasi militer dan ketidakstabilan pasokan energi lebih lanjut, pemerintah Indonesia tetap optimistis dengan langkah-langkah antisipasi yang telah dijalankan oleh Presiden Prabowo.
Fokus utama saat ini adalah memastikan fondasi ekonomi masyarakat tetap kokoh menghadapi badai ekonomi global.
